Terlunta lunta... Letih...
Jiwa ini meronta-ronta... Menahan perih...
Jiwa ini meronta-ronta... Menahan perih...
Janji Mu mengampuni
Namun Kau terus menguji...
Kayaknya الله ga mau begitu aja percaya kalo kami sudah melepas dan ga akan mau lagi berhubungan dengan hal-hal ribawi. الله masih mau tau sampai mana kita tahan. الله berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]
Iya, sesuai janji. الله masih menguji hambanya ini. Resign dari bank, masa penyembuhan istri, selesai? Rasanya belum, ujian yang kami hadapi sepertinya belum seberapa. Pada sampai suatu waktu, istri mulai gelisah ga punya kegiatan dirumah. Akhirnya memutuskan untuk kerja lagi. Tapi kali ini bukan dibidang perbankan, tapi farmasi. Bener banget, pekerjaanya ga semulus yang dibayangkan. Ga semudah kerja di bank. Masalah demi masalah bermunculan di kantor baru istri. Pulang larut malam, kerjaan serabutan, bahkan gw pun terkadang ikut begadang.
Kasus baru pun terjadi, istri pulang larut dari kantornya. Ketika turun tangga, dia terjatuh 1 lantai. 😢 What a life...
Tipes, Fatty Liver, jatuh dari tangga. Pasrah se pasrah pasrahnya dengan keadaan. Mungkin orang bakal berpikiran, gimana mau hamil klo udah gitu.
Akhirnya istri mengundurkan diri dari kerjaanya. Kami mesti recovery lagi dari segala sisi, termasuk finansial. Gimana engga, selama kerja di perusahaan ini ternyata istri banyak banget nombok urusan kantor pake uang dia sendiri. Dan parahnya uangnya ga pernah diganti, bahkan sampai dia resign (sampai detik ini). Gw cuma bisa bilang, sudah diikhlaskan saja. Kalau rezeki, pasti uang itu balik lagi. الله pasti ganti dengan yang lebih baik. Disamping gw juga males ribut dengan perusahaan itu. Mungkin masih tersisa harta dari bank yang mungkin memang harus dibuang jauh-jauh. Harta rampasan perang yang masih tersisa dan memang semestinya diikhlaskan.
Kehidupan kami mulai bangkit lagi, perlahan...
Diet ketat mulai di jalankan, demi menurunkan berat badan istri. Ya, mau ke sekian dokter jawaban selalu sama, PCOS karena overweight. Mulai lah kami makan makanan sehat, pepes hampir kurang lebih 3 bulan. Iya kami, karena yang makan bukan cuma istri, gw juga ikut. Sebagai rasa solidaritas akan perjuangan bersama 😁
Berbulan-bulan makan makanan sehat. Alhamdulillah sedikit membuahkan hasil. Haid mulai teratur. Tapi ga bertahan lama, karena ya kami hanya manusia punya rasa jenuh dengan makanan yang sama. Dan pada akhirnya pun kami pasrah dengan keadaan. Ya setidaknya proses itu menghasilkan sesuatu.
Banyak banget saran dari kerabat terdekat buat ngelakuin ini dan itu. Satu per satu kami lakukan. Perbanyak sedekah, terapi air hujan, pijat buat ngebenerin rahim dan bekam. Untungnya saat itu musim hujan, jadi tiap sore pulang kantor pas hujan dan pas juga hujan-hujanan. Bekam paling enak sih, badan enteng kolesterol trurun. 😄
Hingga sampai pada suatu ketika haid istri mulai terlambat lagi. Sakit mulai menyerang lagi, cuma bisa perbanyak doa. Untungnya orang tua masih menyemangati, dan malah menyarankan untuk testpack. Karena menganggap jarak telat haid yang lama, dikhawatirkan isi. Alhamdulillah punya orang tua yang masih support, tapi pada masa-masa ini saran untuk testpack itu seperti disuruh ikut test UMPTN bagi gw yang ga pernah lulus ini. Jadi angin lalu aja jadinya 😅. Mungkin karena sudah sering testpack dan hasilnya negatif, jadi takut untuk dapet hasil negatif lagi. Jadi ya, saran itu kayak masuk kuping kanan keluar lewat idung.
Suatu hari, ga lama dari saran pen-testpack-an, entah kenapa tiba-tiba istri pengen banget makan sop kambing di Sabang malam itu. Padahal itu senin, bukan hari libur/sabtu/ahad. Mengingat jarak rumah dengan sabang yang lumayan jauh, tapi karena kami doyan, ya udah berangkat ke sabang. Parkir kebetulan di depan Apotek, hati tergelitik buat beli testpack. Diskusi ringan muncul kepermukaan terkait pembelian testpack. beli atau engga? kalo beli, beli yang merk apa. hmmmm... akhirnya sepakat buat beli yang harganya murah. Takut kalo beli yang mahal trus negatif kecewanya double 😅😆
Malam itu kita lupa akan diet, makan sekenyangnya, berbincang-bincang hingga lupa akan waktu.
Keesokan paginya istri lupa buat ngetes 😆 padahal katanya, air seni yang bagus buat test itu pas bangun tidur pagi. Tapi yasudah lah, nothing to loose. Akhirnya di test aja, meskipun udah air seni ke sekian 😶
hasilnya pun bikin deg-degan...
Memupuk kesabaran dari cobaan. Pertebal iman dari godaan. Menutup pendengaran dari pertanyaan
Diet ketat mulai di jalankan, demi menurunkan berat badan istri. Ya, mau ke sekian dokter jawaban selalu sama, PCOS karena overweight. Mulai lah kami makan makanan sehat, pepes hampir kurang lebih 3 bulan. Iya kami, karena yang makan bukan cuma istri, gw juga ikut. Sebagai rasa solidaritas akan perjuangan bersama 😁
Berbulan-bulan makan makanan sehat. Alhamdulillah sedikit membuahkan hasil. Haid mulai teratur. Tapi ga bertahan lama, karena ya kami hanya manusia punya rasa jenuh dengan makanan yang sama. Dan pada akhirnya pun kami pasrah dengan keadaan. Ya setidaknya proses itu menghasilkan sesuatu.
Banyak banget saran dari kerabat terdekat buat ngelakuin ini dan itu. Satu per satu kami lakukan. Perbanyak sedekah, terapi air hujan, pijat buat ngebenerin rahim dan bekam. Untungnya saat itu musim hujan, jadi tiap sore pulang kantor pas hujan dan pas juga hujan-hujanan. Bekam paling enak sih, badan enteng kolesterol trurun. 😄
Hingga sampai pada suatu ketika haid istri mulai terlambat lagi. Sakit mulai menyerang lagi, cuma bisa perbanyak doa. Untungnya orang tua masih menyemangati, dan malah menyarankan untuk testpack. Karena menganggap jarak telat haid yang lama, dikhawatirkan isi. Alhamdulillah punya orang tua yang masih support, tapi pada masa-masa ini saran untuk testpack itu seperti disuruh ikut test UMPTN bagi gw yang ga pernah lulus ini. Jadi angin lalu aja jadinya 😅. Mungkin karena sudah sering testpack dan hasilnya negatif, jadi takut untuk dapet hasil negatif lagi. Jadi ya, saran itu kayak masuk kuping kanan keluar lewat idung.
Suatu hari, ga lama dari saran pen-testpack-an, entah kenapa tiba-tiba istri pengen banget makan sop kambing di Sabang malam itu. Padahal itu senin, bukan hari libur/sabtu/ahad. Mengingat jarak rumah dengan sabang yang lumayan jauh, tapi karena kami doyan, ya udah berangkat ke sabang. Parkir kebetulan di depan Apotek, hati tergelitik buat beli testpack. Diskusi ringan muncul kepermukaan terkait pembelian testpack. beli atau engga? kalo beli, beli yang merk apa. hmmmm... akhirnya sepakat buat beli yang harganya murah. Takut kalo beli yang mahal trus negatif kecewanya double 😅😆
Malam itu kita lupa akan diet, makan sekenyangnya, berbincang-bincang hingga lupa akan waktu.
Keesokan paginya istri lupa buat ngetes 😆 padahal katanya, air seni yang bagus buat test itu pas bangun tidur pagi. Tapi yasudah lah, nothing to loose. Akhirnya di test aja, meskipun udah air seni ke sekian 😶
hasilnya pun bikin deg-degan...
Dua garis merah, yang satunya burem. Ga mau berharap terlalu tinggi, takut jatoh kalo ga sesuai harapan. Akhirnya nanya ke Orang tua, Ibu memvonis istri gw hamil! 😲
Ibu memang pensiunan bidan. Cuma gw masih ga percaya 😅 akhirnya ditanyakan ke kakak gw, dan dia juga memvonis istri gw hamil juga, ngga dia bukan bidan, dia bilang waktu hamil anak ke-2 bahkan buremnya garis lebih ga jelas ketimbang yang ini. Hmmmm...bntr masih belom percaya, gw tanya ke temen deket. Dia juga bilang hal yang sama...
Masih ga percaya sih dan tetep ga mau ekspektasi banyak. 😂🤣😅
Akhirnya kita niatkan saja ke dokter buat cek kehamilan.
bersambung...
Komentar
Posting Komentar